Minggu, 24 Mei 2015

Ilmu Pengetahuan Bangsa Arab - Tugas Makalah Tsaqafah Arabiyah



ILMU DAN PENGETAHUAN BANGSA ARAB
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata kuliah Tsaqafah Arabiyah
Dosen pengampu Dr. H. Mad ‘Ali M.Ag
Disusun oleh :

Afifah Nurul F (1401858)
Athiyah Jazilah (1404135)
Gusrizal Hadi (1406183)
Iwan Mulya W (1405746)
Keuis Siti Sa’adah (1406899)
Novita Sekar AR (1403127)
Riva Ekawati (1401792)
Selma Fitri R (1403127)
Tesya Apriliani  (1406336)


DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2015


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang atas rahmat, petunjuk, dan hidayah-Nya makalah ini dapat terselesaikan. Salawat beserta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan sifatnya yang cerdas maka lahirlah Islam sebagai agama yang rahmatal lil’alamin.
Makalah ini berjudul Ilmu dan Pengetahuan Bangsa Arab yang disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tsaqafah Arabiyah yang dibimbing oleh Dr. H. Mad ‘Ali M.Ag.
Makalah ini di susun bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai ilmu pengetahuan yang berkembang di bangsa Arab.
Penulis sangat berterimakasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dorongan, bantuan, serta do’anya sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Namun demikian, penulis pun meminta masukan berupa saran dan kritikan dari seluruh pihak.
Diharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya. Aamiin.
Bandung, 6 Mei 2015
Penulis


DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar.............................................................................................. i
Daftar Isi........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1
A.    Latar Belakang Masalah............................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah...................................................................................... 1
C.     Tujuan Masalah.......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 3
A.    Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Rasulullah dan Khufaur Rasyidin  3
B.     Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Umayyah..... 5
C.     Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Abbasiyah.... 6
BAB III KESIMPULAN............................................................................. 12
Daftar Pustaka.............................................................................................. 14


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seiring perkembangan zaman, berkembang pula Ilmu pengetahuan di dunia termasuk di Negara Jazirah Arab yang merupakan tanah pelopor berkembangnya Ilmu pengetahuan di dunia sampai saat ini. Ilmu pengetahuan semakin beragam dan semakin kompleks, perkembangan ilmu pengetahuan tersebut tidak lepas dari peradaban Islam yang sempat berjaya pada masa lalu dengan menemukan berbagai disiplin Ilmu.
Negara Jazirah Arab merupakan tempat dimana Rasulullah saw dilahirkan, menjadi pemimpin umat muslim dan pemimpin negara, yang menjadi teladan bagi para umatnya baik dari akhlaknya yang mulia maupun kepemimpinannya yang penuh dengan tanggung jawab dan kebijaksanaan. Setelah beliau wafat digantikanlah kepemimpinannya oleh sahabat-sahabat beliau yang sering disebut dengan Khulafaur Rasyidin, yang juga dengan sahabt-sahabat ini dapat dibukakanlah mata hati orang-orang muslim pada saat itu mengenai pentingnya mencari ilmu dan Ilmu pengetahuan.
Setelah para sabahat Rasulullah saw wafat, maka digantikanlah kepemimpinannya oleh keturunan-kuturunan Rasulullah saw. yaitu Khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Yang pada masa itu Islam meraih kejayaan baik dalam bidang politik maupun Ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan pada masa itu sangatlah berkembang pesat, para ahli mulai menemukan berbagai penemuan-penemuan yang kemudian menjadi sebuah disiplin Ilmu yang sangat berguna bagi kehidupan yang akan datang.

B.  Rumusan Masalah
1.   Bagaimana pertumbuhan Ilmu pengetahuan pada masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin?
2.   Bagaimana pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Umayyah?
3.   Bagaimana pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Abbasiyah?
C. Tujuan
1.   Mengetahui pertumbuhan Ilmu pengetahuan pada masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin?
2.   Mengetahui pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Umayyah?
3.   Mengetahui pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Abbasiyah?

1.       
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin
Sebelum Islam datang bangsa Arab berada pada masa Jahiliyah (kebodohan). Mereka berada dalam kegelapan akidah dan ilmu pengetahuan. Di sisi keilmuan tercatat sekitar 17 orang Quraisy yang pandai baca tulis.
Turunnya wahyu pertama tidak hanya pertanda dimulainya pemurnian akidah tetapi juga dorongan untuk menggali ilmu. Bukankah surat Al ’Alaq diawali dengan ”Iqra!” (bacalah)?. Di kalangan kaum Muslimin sendiri sahabat yang pandai baca tulis masih sedikit, diantaranya Zaid ibn Tsabit yang kemudian menjadi penulis wahyu Rasulullah.
Setelah memperoleh kemenangan di perang Badar, kaum muslimin banyak menawan pasukan Quraisy. Diantara para tawanan tersebut terdapat beberapa orang yang pandai baca tulis. Untuk memperoleh kebebasannya kembali, salah satu tebusannya mereka harus mengajar baca tulis kepada kaum Muslimin.
Rasulullah sendiri sangat memperhatikan masalah ilmu pengetahuan. Beberapa hal yang melandasi pengembangan ilmu pengetahuan pada jaman Rasulullah adalah :
1.    Wahyu pertama di awali dengan perintah membaca. Membaca adalah kemampuan awal dalam menggali ilmu pengetahuan.
2.    Bangsa Arab pada umumnya mempunyai daya hafal yang tinggi.
3.    Rasulullah membangun tradisi menulis dengan menunjuk Zaid ibn Tsabit sebagai penulis wahyu.
4.    Al-Quran merupakan sumber ilmu pengetahuan.
Disamping itu di dalam Al-Quran pun terdapat dorongan untuk menuntut ilmu : ... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadilah : 11).
Dengan landasan tersebut Rasulullah meneladani, membimbing dan mendorong para sahabat untuk beriman dan berilmu, sebagaimana sabdanya yang artinya : Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi Muslimin dan Muslimat (HR. Ibnu Abdil Bar).
Rasulullah pun mendorong para sahabat untuk menuntut ilmu ke luar Arab, dengan mengatakan “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”.
Dengan bimbingan Rasulullah muncullah sahabat-sahabat yang memiliki kemampuan dalam bidangnya. Misalnya :
1.    Umar ibn Khaththab ahli dalam bidang hukum dan manajemen lembaga pemerintahan.
2.    Abdullah ibn Umar merupakan salah satu pengumpul hadits.
3.    Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Mas’ud dan Ubay ibn Kaab menguasai bidang tafsir.
4.    Abdullah ibn Abbas mahir dalam asbabun nuzul (sebab turunnya ayat Al Quran), faraid (waris) dan sejarah peperangan Rasulullah.
Pada masa Khulafaur Rasyidin ilmu pengetahuan berkembang pesat terutama pada masa Khalifah Umar ibn Khaththab. Pada masa ini wilayah Islam semakin luas meliputi Syiria, Mesir, Palestina dan Persia. Dalam proses perluasan itu terjadi kontak dengan budaya dan bahasa di daerah-daerah baru. Syiria, Mesir dan Palestina sebelumnya merupakan daerah jajahan Romawi lambat laun masuk dalam wilayah kekhalifahan Islam. Di beberapa kota yang terdapat di wilayah tersebut seperti Iskadariyah dan Antiokia telah berkembang kebudayaan Yunani yang dibawa bangsa Romawi. Beberapa orang ilmuwan ada yang masuk Islam. Selanjutnya mereka mengembangkan ilmunya sehingga menambah khazanah dalam kebudayaan Islam, terjadilah asimilasi dalam bidang bahasa, adat istiadat, pemikiran dan bidang–bidang lainnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan Islam berasal dari dua sumber utama, yaitu Al Quran/Al Hadits dan kontak dengan budaya baru.
1.    Sebagai landasan utama ajaran Islam Al Quran dan Al Hadits melahirkan kajian-kajian dan dampak sebagai berikut :
a.    Ilmu nahwu (tatabahasa Arab), dasar-dasarnya dikembangkan oleh Ali ibn Abi Thalib, kemudian disempurnakan oleh Abul Aswad Al Dualy.
b.    Ilmu tafsir, para pengkaji pertamanya adalah Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Mas’ud dan Ubay ibn Kaab.
(Lebih lanjut akan dibahas pada ”Perkembangan Ilmu Naqli” beberapa halaman mendatang)
c.    Pengiriman guru ke luar Arab untuk menyebarkan ilmu agama Islam sudah dilakukan, misalnya Abdullah ibn Mas’ud ke Kufah, Abu Musa dan Anas ibn Malik ke Basrah. Ilmu agama Islampun berkembang dan memunculkan ahli ilmu di daerah-daerah baru wilayah Islam.
d.   Pembukuan Sunnah oleh Al Zuhri atas perintah khalifah Umar.
e.    Umat Islam tertarik mempelajari budaya, kaidah dan ilmu yang berkembang di kalangan orang Yahudi dan Nasrani.
2.    Telah disebutkan bahwa kontak budaya dengan bangsa lain membuat kaum Muslimin menyerap pengetahuan-pengetahuan baru bangsa-bangsa lain tersebut yang selanjutnya menjadi bagian dari budaya Islam. Dari kebudayaan Persia dan Byzantium kaum Muslimin mengambil cara pengorganisasian negara, militer, gaya upacara dan seni. Dari bangsa India mereka mengambil matematika dan astronomi. Dari bangsa Yunani mengambil filsafat dan ilmu. Selanjutnya pengetahuan-pengetahuan baru tersebut diramu dengan ajaran-ajaran Islam sehingga muncullah pengetahuan dan budaya yang bercorak Islam.

B.  Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Umayyah
Salah satu dampak semakin luasnya wilayah Islam adalah masuk Islamnya para ilmuwan yang semula beragama Yahudi, Nasrani dan Zoroaster. Setelah menjadi Muslim, mereka tetap memelihara ilmu yang mereka kuasai, bahkan ada yang mendapat jabatan di istana khalifah dan mendapat perlindungan khalifah-khalifah Bani Umayyah, misalnya :
a.    Khalid ibn Yazid, cucu Muawiyah tertarik pada ilmu kimia dan kedokteran. Ia mendorong penterjemahan buku-buku kimia dan kedokteran berbahasa Yunani ke bahasa Arab.
b.    Al Walid ibn Abdul Malik menaruh minat pada bimaristan (rumah sakit) sebagai tempat berobat dan belajar. Ia memprakarsai pendirian bimaristan di Damaskus tahun 884 M.
c.    Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan pembukuan hadits-hadits Nabi secara lengkap. Beliau sendiri mempunyai dokter pribadi dari Iskandariyah.
d.   Abdul Malik ibn Marwan mempunyai pejabat beragama Nasrani bernama Yahya al Dimasyqi yang mempelopori tumbuhnya ilmu logika sehingga melahirkan kelompok rasionalis Islam.
Secara garis besar ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a.    Ilmu pengetahuan agama ( ’ulum al diniyyah) yang bersumber pada Al Quran dan Hadits Nabi.
b.    Ilmu sejarah (’ulum al tarikh) membahas perjalanan hidup, kisah dan riwayat.
c.    Ilmu bahasa (’ulum al lughah) mempelajari nahwu, sharaf. Ilmu bahasa Arab berkembang pesat dan dipelajari di seluruh wilayah Islam, karena ditetapkan sebagai bahasa resmi dan bahasa ilmiah.
d.   Ilmu filsafat (’ulum al falasifa) yaitu ilmu yang berasal dari bangsa asing seperti ilmu mantiq (logika), kedokteran, kimia, astronomi, ilmu hitung. Kitab-kitab ilmu ini diterjemahkan dari bahasa Yunani.

C.  Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Abbasiyah
Gerakan menumbuhkan ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyah dirintis oleh Khalifah Ja’far al Mansur melalui pembukuan ilmu agama Islam (Ilmu naqli) dan penterjemahan secara besar-besaran buku ilmu pengetahuan yang berasal dari luar; dan mencapai puncak keemasan pada masa Khalifah Harun al Rasyid. Di kota Baghdad terdapat perpustakaan besar Khizanat al Hikmah (Khalifah Harun al Rasyid) yang kemudian diubah menjadi Bayt al Hikmah (khalifah Ma’mun).
Perkembangan ilmu pada masa ini dapat dikelompokkan menjadi ilmu naqli (bersumber pada Al Quran dan hadits) dan ilmu aqli (bersumber pada pemikiran/rasio).
1.    Perkembangan Ilmu Naqli.
Ilmu ini telah dirintis sejak Nabi hijrah ke Madinah, meliputi :
a.    Ilmu Tafsir. Ilmu untuk menafsirkan atau menjelaskan ayat Al Quran agar mudah dipahami. Cara menafsirkan Al Quran ada dua yaitu :
1)   Tafsir bil ma’tsur atau menafsirkan ayat dengan hadits Nabi. Tokoh-tokohnya adalah Ibnu Jarir At Thabary, Ibn Athiyah Al Andalusi dan As Suda.
2)   Tafsir bir ra’yi atau menafsirkan ayat dengan akal. Tokoh-tokohnya antara lain Abu Bakar Asma, Abu Muslim Muhammad Al Isfahany.
b.    Ilmu Hadits. Ilmu yang mengupas segala permasalahan hadits sekaligus usaha untuk melestarikan hadits-hadits Nabi. Ahli hadits pada masa ini misalnya Imam Malik (Kitab Al Muwaththa), Imam Syafi’i (Kitab Musnad), Imam Abu Hanifah (Musnad Abu Hanifah) dan Imam Abdu Razaq ibn Hammam (Al Jami’).
c.    Ilmu Kalam. Ilmu yang membahas masalah agama menggunakan kekuatan akal pikiran. Ilmu ini digunakan untuk menangkis serangan argumen agama lain secara filsafati. Tokoh-tokoh ilmu kalam adalah Washil ibn Atho, Abu H'uzail Al Allaf, Abu Hasan Al Asy’ari dan Imam Ghazali.
d.   Ilmu Tasawwuf. Inti ilmu ini adalah beribadah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan meninggalkan kehidupan duniawi. Tokoh-tokohnya adalah Al Qushairy, Syahabuddin Syahrowardy, Imam Al Ghazali.
e.    Ilmu Bahasa. Ilmu ini mengupas segala hal yang berkaitan dengan bahasa Arab, sehingga muncullah ilmu nahwu, sharaf, ma’ani, arudh, qamus, dan lain-lain. Tokoh-tokoh ilmi bahasa Arab misalnya Sibawaihi, Muaz Al Harro, Al Kasai, Abu Usman Al Maziny.
f.     Ilmu Fiqh. Ilmu yang membahas hukum-hukum Islam seperti ibadah dan muamalah (hubungan antar manusia). Ulama-ulama fuqaha pada masa ini adalah Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi), Imam Malik (Madzhab Maliki), Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i), Imam Ahmad ibn Hambal (Madzhab Hambali).
2.    Perkembangan Ilmu Aqli
Perkembangan ilmu ini diawali dengan penterjemahan buku-buku keilmuan berbahasa Yunani.
a.    Ilmu Filsafat. Dapat dikatakan bahwa filsafat merupakan induk ilmu-ilmu aqliyah. Tokoh-tokohnya adalah Al Kindi, Al Farabi, Ibn Sina, Al Ghazali, Ibn Rusyd (Averos),
b.    Ilmu kedokteran. Disamping berkembang secara teoritis, ilmu ini juga berkembang pula ilmu medis empiris (didasarkan pada pengalaman). Cabang-cabang ilmu kedokteran sudah mulai berkembang seperti anatomi, fisiologi, patologi, dan bedah Tokoh ilmu medis pada periode ini misalnya Hunayn ibn Ishaq, Ali ibn Sahl al Tabari, Al Razy (Razes), Ibn Sina (Avicena), Ibn al Nafis.
c.    Ilmu Optik. Meliputi kajian visi (penglihatan) fisik maupun geometris, refleksi sinar pada cermin (catoptrik), pembakaran cermin dan fenomena atmosfir seperti pelangi. Tokoh-tokohnya adalah Ibn Masawayh, Huhayn ibn Ishaq, Quata ibn Luqa, Tsabit ibn Qurrah, Ibn Haytam (Alhazen) dan Kamal al Din al Farisy.
d.   Ilmu Astronomi. Ilmu mempelajari tentang ruang angkasa dan pergerakan benda-benda langit. Pertama, cikal bakal ilmu astronomi. Bangsa Arab pada awalnya menjadikan ilmu ini sebagai media untuk menentukan arah bagi musafir yang berjalan jauh dan pelaut yang mengarungi samudra. Melalui media ini dikenal perputaran waktu dan penanggalan.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, ilmu astronomi mengalami pergeseran. Sebagian pecinta mistis mengaitkan fenomena langit terhadap nasib dan karakter anak manusia dan selainnya. Alhasil, lahirlah ilmu astrologi yang merupakan bagian dari ilmu metafisika. Lalu muncullah para dukun, ahli nujum, dan peramal yang kala itu membanjiri masyarakat Arab.
e.    ilmu meteorologi dan geofisika Bangsa Arab mempelajari kondisi atmosfer bumi yang berguna sebagai indikator dalam menentukan prakiraan cuaca. Ilmu ini awalnya hanyalah ilmu mengenai awan, baik itu jenisnya, letaknya, dan semisalnya, untuk mengetahui dekatnya waktu hujan. Namun ilmu ini kemudian berkembang sehingga berfungsi menentukan prakiraan cuaca. Begitu juga dalam ilmu geofisika yang mempelajari bumi melalui pendekatan ilmu fisika yang juga berfungsi mengetahui prakiraan cuaca.
Kita ketahui bersama bahwa bangsa Arab adalah petualang padang pasir yang melegenda. Bahkan sebagian mereka dari masyarakat Badui adalah kaum nomaden yang hidupnya berpindah-pindah. Oleh karenanya, mereka sangat bergantung pada cuaca. Terlebih lagi mereka memiliki musuh besar yang bernama Haboob alias badai gurun yang bisa mengancam kapan saja ia suka.
f.     Matematika. Ilmuwan Muslim abad pertengahan banyak memberi¬kan sumbangan pada petumbuhan matematika. Pada awalnya angka-angka yang dipakai berasal dari India (raqm al Hindi) yakni angka 1,2,3,4,5, selanjutnya Al Khawarimi menciptakan angka 6,7,8,9 dan 0. Al Khawarizmi juga menemukan Alqarism (logaritma) dan kalkulus. Demikian pula Al Tusi yang menggali geometri aljabar dengan kajian kurva menggunakan rumus. Matematikawan Muslim terkemuka abad ini adalah Al Khawarizmi, Umar al Khayyam (persamaan kubik dan persamaan derajat).
g.    Ilmu Kimia. Jabir bin Hayyan dikatakan sebagai “Bapak Ilmu Kimia”. Jabir membagi benda terdiri atas tubuh (emas dan perak), nyawa (sulphur dan arsenik) dan akal (mercury dan sal amoniak). Jabir juga memberikan dasar-dasar petunjuk mengenai penguapan (evaporation), penyaringan (filtration), penghalusan (sublimation), pencairan (melting), distillation dan crystallization. Tokoh lainnya adalah Al Razi yang membagi benda menjadi unsure sayuran, hewan dan logam. Bahasa kimia modern banyak diambil dari karya Al Razi.
h.    Ilmu Sejarah (Tarikh). Tokohnya adalah Al Waqidy, Al Maudy dan Al Thabary.
i.      Geografi. Al Khawarizmi dikenal sebagai kartografer (pembuat peta) tertua. Tumbuhnya ilmu ini berawal dari kisah perjalanan. Daerah-daerah yang sudah dapat digambarkan pada saat itu adalah Timur Tengah, India, Ceylon, Malaya, Indonesia, Cina, Korea, Afrika dan Eropa.Tokoh lainnya adalah Ibn Haykal, Al Biruni, Ibn Jubair, Ibn Batutah.
j.      Seni Rupa. Seni rupa yang berkembang adalah kaligrafi, arsitektur, tekstil, logam, tembikar, kristal.
k.    Seni Musik, tokohnya antara lain Yunus ibn Sulaiman, Al Farabi (Alphanabius) menciptakan alat musik Al Qanun (piano) dan Khalil ibn Ahmad.
l.      Seni Sastra. Tokohnya adalah Umar al Khayyam, Abu Nuwas, Jalaluddin al Rumy, Abu Faras. Pada masa ini berkembang cerita termasyhur dengan judul Alf Lailah wa Lailah (Seribu Satu Malam) namun tidak diketahui secara jelas siapa pengarangnya.
m.  Mesin dan Teknologi. Kajian-kajian ilmu hitung melahirkan ilmu baru yakni ilmu teknik, selanjutnya menimbulkan alat-alat bantu seperti mesin dan teknologi terapan lainnya. Ilmuwan bidang ini misalnyaAl Khazini dengan karyanya Kitab al Mizan al Hikmah (Buku tentang keseimbangan kebijaksanaan), berisi kajian statis teoritis dan hidrostatis; Al Jazari dengan karyanya Kitab fi Ma’rifat al Hiyal al Handasiyyah (Buku ilmu pengetahuan tentang bagian mekanis) berisi teori dasar mesin. Karya-karya yang bersifat terapan antara lain saluran air bawah tanah (qanat) di Iran dan bendungan di Afrika utara dan kincir air (norias) di Sungai Orontes di Hama (Syria).
Pada masa ini masalah gravitasi juga sudah dibahas oleh Abu Sahl al Kuhi dan Abu Ishaq al Shabi, yaitu mengenai penentuan pusat gravitasi. Kajian ini berlangsung jauh sebelum Newton (abad 17).
Agar guru dapat menggambarkan dengan jelas perkembangan ilmu pengetahuan Islam dalam perkembangan dunia serta perbandingannya dengan perkembangan ilmu di India, Cina dan Eropa, berikut ini disajikan skema histories perkembangan ilmu pengetahuan dunia dan peta penyebaran pemanfaatan produk iptek.
n.    Ilmu nasab. Ilmu inilah yang menjadikan sejarah bangsa Arab begitu kuat. Bangsa Arab sangat menghormati nasab. Mereka bisa menyebutkan nasab mereka hingga keturunan yang tak terhingga. Konon seorang peranakan Arab yang tidak bisa menyebut nasabnya hingga minimal sampai kepada kakeknya yang keempat atau kelima dianggap melecehkan nasabnya sendiri. Berbeda dengan kita, orang Indonesia, yang sebagian besar tidak tahu siapa nama kakek dari ayah kita.
o.    ilmu mencari jejak dan cikal bakal ilmu deduksi yang berguna dalam dunia perdetektifan. Ilmu ini disebut ilmu qifayah yang sering dikaitkan dengan teori menjajaki nasab dan keturunan, penilaian asal usul seseorang melalui berbagai perangkat dan media yang dapat digunakan kala itu. Bangsa Arab sangat lihai mencari jejak. Salah satunya dengan jejak kaki. Mereka bisa membedakan berbagai jenis jejak kaki, dari manusia hingga hewan melata. Hebatnya lagi, mereka bisa mengetahui siapa pemilik jejak kaki itu, berapa usianya, berapa lama ia telah meninggalkan tempat tersebut dan semisalnya. So amazing!
Mereka jika dapat mengenali jejak dengan segala apa yang ada di sekitar mereka, mulai dari biji kurma, ranting kering, darah yang berceceran, keringat, kotoran, atau ludah yang mengering di bebatuan, bulu binatang, dan apa saja yang ditinggalkan si pemilik jejak tersebut.

BAB III
KESIMPULAN
           
Pada masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin Ilmu pengetahuan didasari oleh Al-Quran/Asunnah dan kontak budaya dengan bangsa lain. Saat itu masih sedikit sekali yang mampu membaca dan berilmu pengetahuan, kemudian saat turun wahyu kepada Rasulullah surat Al-‘alaq ayat 1-5 mengenai perintah membaca dan Surat Al-Mujadillah ayat 11 mengenai keutamaan orang yang berilmu pengetahuan, maka masyarakat Arab pun mulai belajar membaca dan belajar menulis, sehingga melahirkan muslim-muslim yang mempunyai kemampuan dalam berbagai bidang. Kemudian bermunculan pula berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu Nahwu, Ilmu tafsir serta Ilmu lainnya.
            Pada masa Bani Umayyah Ilmu pengetahuan selamakin kompleks dikarenakan para ilmuan yang semula kafir kemudian masuk Islam membawa diantaranya, ilmu kedokteran, ilmu kimia, diadakannya rumah sakit, pembukuan hadits, dan ilmu logika. Secara garis besarnya adalah Ilmu pengetahuan agama, Ilmu sejarah, Ilmu bahasa, Ilmu filsafat.
            Pada masa Bani Abbasiyah Ilmu pengetahuan dirintis oleh Khalifah Ja’far al Mansur dan mencapai puncak keemasan pada masa Khalifah Harun al Rasyid. Perkembangan ilmu pada masa ini dikelompokkan menjadi 2, pertama ilmu naqli yaitu ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu kalam, ilmu tasawwuf, ilmu bahasa, dan ilmu fiqh. Dan kedua Ilmu aqli yaitu ilmu filsafat, ilmu kedokteran, ilmu optik, ilmu astronomi, ilmu meteorologi, matematika, ilmu kimia, ilmu sejarah, geografi, seni rupa, seni musik, seni sastra, mesin dan teknologi, ilmu nasab, dan ilmu mencari jejak.


الخلاصة
في الزمان رسول الله و الخلافاء الراشدين العلوم اسس بالقرآن,السنة و الرابطة الثقافة مع شعب آخر. حين ذاك قليل جدا  من الذي يستطيع القراءة و العلوم, ثم حين نزل وحي الي الرسول الله سورة العلق آية 1-5 عن أمر بقراءة و سورة المجادلة آية 11 عن فضيلة العلوم لناس, فبدأ المجتمع العربي درس القراءة  و درس الكتابة, حتى ولد المسمون الذي تمكن فى طاقة مختلفة. ثم جاء انضباط العلم المختلفة, مثل العلم نحوى, العلم تفسير, و غير ذالك.
فى زمان بنى اماية العلوم زاد المركب لأن  العلماء الذى  قبله الكفرون دخلوا الإسلام وحمل العلم الطب, كيمياء, مكون
 المستشفى, سجل الحديث, و العلم العقل. فى المجمل هو العلم الدين, العلم التريخ, العلم اللغة, العلم فلسفة.
فى زمان بنى ابا شيةالعلوم سباق بخليفة جعفر المنسور وقضي  هامة في خليفة هارن الرشيد. تقدم العلوم فى هذا الزمان كتل الثاني, الأول هو العلم نقلي هو العلم التفسير, العلم الحديث, العلم الكلام, العلم تسوف, العلم اللغة, والعلم الفقه. والثاني العلم عقلي هو العلم الفلسفة, العلم الطب, الغلم البصري, العلم الفلك, العلم النجوم, العلم الرياضيات,العلم كيمياء,العلم التريخ, العلم جغرافيو, الفن الونون, الفن المسيقي, الفن ادب, الألةو تقني, العلم نصب, العلم المباحث.
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar