ILMU DAN PENGETAHUAN BANGSA ARAB
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata kuliah Tsaqafah Arabiyah
Dosen pengampu Dr. H. Mad ‘Ali M.Ag

Disusun oleh :
Afifah Nurul F (1401858)
Athiyah Jazilah (1404135)
Gusrizal Hadi (1406183)
Iwan Mulya W (1405746)
Keuis Siti Sa’adah (1406899)
Novita Sekar AR (1403127)
Riva Ekawati (1401792)
Selma Fitri R (1403127)
Tesya Apriliani (1406336)
DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2015
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang
atas rahmat, petunjuk, dan hidayah-Nya makalah ini dapat terselesaikan. Salawat
beserta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan sifatnya yang cerdas maka lahirlah
Islam sebagai agama yang rahmatal lil’alamin.
Makalah ini berjudul Ilmu dan Pengetahuan Bangsa Arab yang disusun
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tsaqafah Arabiyah yang dibimbing
oleh Dr. H. Mad ‘Ali M.Ag.
Makalah ini di susun bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai
ilmu pengetahuan yang berkembang di bangsa Arab.
Penulis sangat berterimakasih kepada berbagai pihak yang telah
memberikan dorongan, bantuan, serta do’anya
sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada
waktunya.
Namun demikian, penulis pun meminta
masukan berupa saran dan kritikan dari seluruh pihak.
Diharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak
yang memerlukannya. Aamiin.
Bandung, 6 Mei
2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
Kata Pengantar.............................................................................................. i
Daftar Isi........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1
A.
Latar Belakang Masalah............................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah...................................................................................... 1
C. Tujuan Masalah.......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 3
A.
Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Rasulullah dan
Khufaur Rasyidin 3
B.
Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani
Umayyah..... 5
C.
Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani
Abbasiyah.... 6
BAB III KESIMPULAN............................................................................. 12
Daftar Pustaka.............................................................................................. 14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Seiring perkembangan zaman,
berkembang pula Ilmu pengetahuan di dunia termasuk di Negara Jazirah Arab yang merupakan tanah
pelopor berkembangnya Ilmu pengetahuan di dunia sampai saat ini. Ilmu pengetahuan semakin beragam dan semakin kompleks, perkembangan
ilmu pengetahuan tersebut tidak lepas dari peradaban Islam yang sempat berjaya pada masa lalu
dengan menemukan berbagai disiplin Ilmu.
Negara Jazirah Arab merupakan tempat dimana
Rasulullah saw dilahirkan, menjadi pemimpin umat muslim dan pemimpin negara,
yang menjadi teladan bagi para umatnya baik dari akhlaknya yang mulia maupun
kepemimpinannya yang penuh dengan tanggung jawab dan kebijaksanaan. Setelah
beliau wafat digantikanlah kepemimpinannya oleh sahabat-sahabat beliau yang
sering disebut dengan Khulafaur Rasyidin, yang juga dengan sahabt-sahabat ini
dapat dibukakanlah mata hati orang-orang muslim pada saat itu mengenai
pentingnya mencari ilmu dan Ilmu pengetahuan.
Setelah para sabahat Rasulullah saw wafat,
maka digantikanlah kepemimpinannya oleh keturunan-kuturunan Rasulullah saw.
yaitu Khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Yang pada masa itu Islam meraih
kejayaan baik dalam bidang politik maupun Ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan pada masa itu sangatlah berkembang
pesat, para ahli mulai menemukan berbagai penemuan-penemuan yang kemudian
menjadi sebuah disiplin Ilmu yang sangat berguna bagi kehidupan yang akan
datang.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana pertumbuhan Ilmu pengetahuan pada masa Rasulullah
dan Khulafaur Rasyidin?
2.
Bagaimana pertumbuhan
Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Umayyah?
3. Bagaimana pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani
Abbasiyah?
C. Tujuan
1.
Mengetahui pertumbuhan Ilmu pengetahuan pada masa
Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin?
2.
Mengetahui pertumbuhan
Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Umayyah?
3. Mengetahui pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani
Abbasiyah?
1.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pertumbuhan
Ilmu Pengetahuan Pada Masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin
Sebelum Islam datang bangsa Arab berada pada masa Jahiliyah
(kebodohan). Mereka berada dalam kegelapan akidah dan ilmu pengetahuan. Di sisi
keilmuan tercatat sekitar 17 orang Quraisy yang pandai baca tulis.
Turunnya wahyu pertama tidak hanya pertanda dimulainya pemurnian akidah tetapi juga dorongan untuk menggali ilmu. Bukankah surat Al ’Alaq diawali dengan ”Iqra!” (bacalah)?. Di kalangan kaum Muslimin sendiri sahabat yang pandai baca tulis masih sedikit, diantaranya Zaid ibn Tsabit yang kemudian menjadi penulis wahyu Rasulullah.
Turunnya wahyu pertama tidak hanya pertanda dimulainya pemurnian akidah tetapi juga dorongan untuk menggali ilmu. Bukankah surat Al ’Alaq diawali dengan ”Iqra!” (bacalah)?. Di kalangan kaum Muslimin sendiri sahabat yang pandai baca tulis masih sedikit, diantaranya Zaid ibn Tsabit yang kemudian menjadi penulis wahyu Rasulullah.
Setelah memperoleh kemenangan di perang Badar, kaum
muslimin banyak menawan pasukan Quraisy. Diantara para tawanan tersebut
terdapat beberapa orang yang pandai baca tulis. Untuk memperoleh kebebasannya
kembali, salah satu tebusannya mereka harus mengajar baca tulis kepada kaum
Muslimin.
Rasulullah sendiri sangat memperhatikan masalah ilmu pengetahuan. Beberapa hal yang melandasi pengembangan ilmu pengetahuan pada jaman Rasulullah adalah :
Rasulullah sendiri sangat memperhatikan masalah ilmu pengetahuan. Beberapa hal yang melandasi pengembangan ilmu pengetahuan pada jaman Rasulullah adalah :
1. Wahyu
pertama di awali dengan perintah membaca. Membaca adalah kemampuan awal dalam
menggali ilmu pengetahuan.
2. Bangsa
Arab pada umumnya mempunyai daya hafal yang tinggi.
3. Rasulullah
membangun tradisi menulis dengan menunjuk Zaid ibn Tsabit sebagai penulis
wahyu.
4. Al-Quran
merupakan sumber ilmu pengetahuan.
Disamping itu di dalam Al-Quran pun terdapat dorongan untuk
menuntut ilmu : ... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadilah : 11).
Dengan landasan tersebut Rasulullah meneladani, membimbing
dan mendorong para sahabat untuk beriman dan berilmu, sebagaimana sabdanya yang
artinya : Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi Muslimin dan Muslimat (HR. Ibnu
Abdil Bar).
Rasulullah pun mendorong para sahabat untuk menuntut ilmu
ke luar Arab, dengan mengatakan “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”.
Dengan bimbingan Rasulullah muncullah sahabat-sahabat yang memiliki kemampuan dalam bidangnya. Misalnya :
Dengan bimbingan Rasulullah muncullah sahabat-sahabat yang memiliki kemampuan dalam bidangnya. Misalnya :
1. Umar
ibn Khaththab ahli dalam bidang hukum dan manajemen lembaga pemerintahan.
2. Abdullah
ibn Umar merupakan salah satu pengumpul hadits.
3. Ali ibn
Abi Thalib, Abdullah ibn Mas’ud dan Ubay ibn Kaab menguasai bidang tafsir.
4. Abdullah
ibn Abbas mahir dalam asbabun nuzul (sebab turunnya ayat Al Quran), faraid
(waris) dan sejarah peperangan Rasulullah.
Pada masa Khulafaur Rasyidin ilmu pengetahuan berkembang
pesat terutama pada masa Khalifah Umar ibn Khaththab. Pada masa ini wilayah
Islam semakin luas meliputi Syiria, Mesir, Palestina dan Persia. Dalam proses
perluasan itu terjadi kontak dengan budaya dan bahasa di daerah-daerah baru.
Syiria, Mesir dan Palestina sebelumnya merupakan daerah jajahan Romawi lambat
laun masuk dalam wilayah kekhalifahan Islam. Di beberapa kota yang terdapat di
wilayah tersebut seperti Iskadariyah dan Antiokia telah berkembang kebudayaan
Yunani yang dibawa bangsa Romawi. Beberapa orang ilmuwan ada yang masuk Islam.
Selanjutnya mereka mengembangkan ilmunya sehingga menambah khazanah dalam
kebudayaan Islam, terjadilah asimilasi dalam bidang bahasa, adat istiadat,
pemikiran dan bidang–bidang lainnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan Islam berasal dari dua sumber utama, yaitu Al Quran/Al Hadits dan kontak dengan budaya baru.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan Islam berasal dari dua sumber utama, yaitu Al Quran/Al Hadits dan kontak dengan budaya baru.
1. Sebagai
landasan utama ajaran Islam Al Quran dan Al Hadits melahirkan kajian-kajian dan
dampak sebagai berikut :
a. Ilmu
nahwu (tatabahasa Arab), dasar-dasarnya dikembangkan oleh Ali ibn Abi Thalib,
kemudian disempurnakan oleh Abul Aswad Al Dualy.
b. Ilmu
tafsir, para pengkaji pertamanya adalah Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Abbas,
Abdullah ibn Mas’ud dan Ubay ibn Kaab.
(Lebih lanjut akan dibahas pada ”Perkembangan Ilmu Naqli” beberapa halaman mendatang)
(Lebih lanjut akan dibahas pada ”Perkembangan Ilmu Naqli” beberapa halaman mendatang)
c. Pengiriman
guru ke luar Arab untuk menyebarkan ilmu agama Islam sudah dilakukan, misalnya
Abdullah ibn Mas’ud ke Kufah, Abu Musa dan Anas ibn Malik ke Basrah. Ilmu agama
Islampun berkembang dan memunculkan ahli ilmu di daerah-daerah baru wilayah
Islam.
d. Pembukuan
Sunnah oleh Al Zuhri atas perintah khalifah Umar.
e. Umat
Islam tertarik mempelajari budaya, kaidah dan ilmu yang berkembang di kalangan
orang Yahudi dan Nasrani.
2. Telah
disebutkan bahwa kontak budaya dengan bangsa lain membuat kaum Muslimin
menyerap pengetahuan-pengetahuan baru bangsa-bangsa lain tersebut yang
selanjutnya menjadi bagian dari budaya Islam. Dari kebudayaan Persia dan
Byzantium kaum Muslimin mengambil cara pengorganisasian negara, militer, gaya
upacara dan seni. Dari bangsa India mereka mengambil matematika dan astronomi.
Dari bangsa Yunani mengambil filsafat dan ilmu. Selanjutnya
pengetahuan-pengetahuan baru tersebut diramu dengan ajaran-ajaran Islam
sehingga muncullah pengetahuan dan budaya yang bercorak Islam.
B. Pertumbuhan
Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Umayyah
Salah satu dampak semakin luasnya wilayah Islam adalah
masuk Islamnya para ilmuwan yang semula beragama Yahudi, Nasrani dan Zoroaster.
Setelah menjadi Muslim, mereka tetap memelihara ilmu yang mereka kuasai, bahkan
ada yang mendapat jabatan di istana khalifah dan mendapat perlindungan
khalifah-khalifah Bani Umayyah, misalnya :
a. Khalid
ibn Yazid, cucu Muawiyah tertarik pada ilmu kimia dan kedokteran. Ia mendorong
penterjemahan buku-buku kimia dan kedokteran berbahasa Yunani ke bahasa Arab.
b. Al
Walid ibn Abdul Malik menaruh minat pada bimaristan (rumah sakit) sebagai
tempat berobat dan belajar. Ia memprakarsai pendirian bimaristan di Damaskus
tahun 884 M.
c. Umar
ibn Abdul Aziz memerintahkan pembukuan hadits-hadits Nabi secara lengkap.
Beliau sendiri mempunyai dokter pribadi dari Iskandariyah.
d. Abdul
Malik ibn Marwan mempunyai pejabat beragama Nasrani bernama Yahya al Dimasyqi
yang mempelopori tumbuhnya ilmu logika sehingga melahirkan kelompok rasionalis
Islam.
Secara
garis besar ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah dapat dikelompokkan sebagai
berikut :
a. Ilmu
pengetahuan agama ( ’ulum al diniyyah) yang bersumber pada Al Quran dan Hadits
Nabi.
b. Ilmu
sejarah (’ulum al tarikh) membahas perjalanan hidup, kisah dan riwayat.
c. Ilmu
bahasa (’ulum al lughah) mempelajari nahwu, sharaf. Ilmu bahasa Arab berkembang
pesat dan dipelajari di seluruh wilayah Islam, karena ditetapkan sebagai bahasa
resmi dan bahasa ilmiah.
d. Ilmu
filsafat (’ulum al falasifa) yaitu ilmu yang berasal dari bangsa asing seperti
ilmu mantiq (logika), kedokteran, kimia, astronomi, ilmu hitung. Kitab-kitab
ilmu ini diterjemahkan dari bahasa Yunani.
C. Pertumbuhan
Ilmu Pengetahuan Pada Masa Khalifah Bani Abbasiyah
Gerakan menumbuhkan ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyah
dirintis oleh Khalifah Ja’far al Mansur melalui pembukuan ilmu agama Islam
(Ilmu naqli) dan penterjemahan secara besar-besaran buku ilmu pengetahuan yang
berasal dari luar; dan mencapai puncak keemasan pada masa Khalifah Harun al
Rasyid. Di kota Baghdad terdapat perpustakaan besar Khizanat al Hikmah
(Khalifah Harun al Rasyid) yang kemudian diubah menjadi Bayt al Hikmah
(khalifah Ma’mun).
Perkembangan ilmu pada masa ini dapat dikelompokkan menjadi
ilmu naqli (bersumber pada Al Quran dan hadits) dan ilmu aqli (bersumber pada
pemikiran/rasio).
1. Perkembangan
Ilmu Naqli.
Ilmu
ini telah dirintis sejak Nabi hijrah ke Madinah, meliputi :
a. Ilmu
Tafsir. Ilmu untuk menafsirkan atau menjelaskan ayat Al Quran agar mudah
dipahami. Cara menafsirkan Al Quran ada dua yaitu :
1) Tafsir
bil ma’tsur atau menafsirkan ayat dengan hadits Nabi. Tokoh-tokohnya adalah
Ibnu Jarir At Thabary, Ibn Athiyah Al Andalusi dan As Suda.
2) Tafsir
bir ra’yi atau menafsirkan ayat dengan akal. Tokoh-tokohnya antara lain Abu
Bakar Asma, Abu Muslim Muhammad Al Isfahany.
b. Ilmu
Hadits. Ilmu yang mengupas segala permasalahan hadits sekaligus usaha untuk
melestarikan hadits-hadits Nabi. Ahli hadits pada masa ini misalnya Imam Malik
(Kitab Al Muwaththa), Imam Syafi’i (Kitab Musnad), Imam Abu Hanifah (Musnad Abu
Hanifah) dan Imam Abdu Razaq ibn Hammam (Al Jami’).
c. Ilmu
Kalam. Ilmu yang membahas masalah agama menggunakan kekuatan akal pikiran. Ilmu
ini digunakan untuk menangkis serangan argumen agama lain secara filsafati.
Tokoh-tokoh ilmu kalam adalah Washil ibn Atho, Abu H'uzail Al Allaf, Abu Hasan
Al Asy’ari dan Imam Ghazali.
d. Ilmu
Tasawwuf. Inti ilmu ini adalah beribadah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada
Allah dengan meninggalkan kehidupan duniawi. Tokoh-tokohnya adalah Al Qushairy,
Syahabuddin Syahrowardy, Imam Al Ghazali.
e. Ilmu
Bahasa. Ilmu ini mengupas segala hal yang berkaitan dengan bahasa Arab,
sehingga muncullah ilmu nahwu, sharaf, ma’ani, arudh, qamus, dan lain-lain.
Tokoh-tokoh ilmi bahasa Arab misalnya Sibawaihi, Muaz Al Harro, Al Kasai, Abu
Usman Al Maziny.
f. Ilmu
Fiqh. Ilmu yang membahas hukum-hukum Islam seperti ibadah dan muamalah
(hubungan antar manusia). Ulama-ulama fuqaha pada masa ini adalah Imam Abu
Hanifah (Madzhab Hanafi), Imam Malik (Madzhab Maliki), Imam Syafi’i (Madzhab
Syafi’i), Imam Ahmad ibn Hambal (Madzhab Hambali).
2. Perkembangan
Ilmu Aqli
Perkembangan
ilmu ini diawali dengan penterjemahan buku-buku keilmuan berbahasa Yunani.
a.
Ilmu Filsafat. Dapat dikatakan bahwa filsafat merupakan induk
ilmu-ilmu aqliyah. Tokoh-tokohnya adalah Al Kindi, Al Farabi, Ibn Sina, Al
Ghazali, Ibn Rusyd (Averos),
b.
Ilmu kedokteran. Disamping berkembang secara teoritis, ilmu ini
juga berkembang pula ilmu medis empiris (didasarkan pada pengalaman).
Cabang-cabang ilmu kedokteran sudah mulai berkembang seperti anatomi,
fisiologi, patologi, dan bedah Tokoh ilmu medis pada periode ini misalnya Hunayn
ibn Ishaq, Ali ibn Sahl al Tabari, Al Razy (Razes), Ibn Sina (Avicena), Ibn al
Nafis.
c.
Ilmu Optik. Meliputi kajian visi (penglihatan) fisik maupun
geometris, refleksi sinar pada cermin (catoptrik), pembakaran cermin dan
fenomena atmosfir seperti pelangi. Tokoh-tokohnya adalah Ibn Masawayh, Huhayn
ibn Ishaq, Quata ibn Luqa, Tsabit ibn Qurrah, Ibn Haytam (Alhazen) dan Kamal al
Din al Farisy.
d. Ilmu Astronomi.
Ilmu mempelajari tentang ruang angkasa dan pergerakan benda-benda langit. Pertama, cikal
bakal ilmu astronomi. Bangsa Arab pada awalnya menjadikan ilmu
ini sebagai media untuk menentukan arah bagi musafir yang berjalan jauh dan
pelaut yang mengarungi samudra. Melalui media ini dikenal perputaran waktu dan
penanggalan.
Akan
tetapi seiring berjalannya waktu, ilmu astronomi mengalami pergeseran. Sebagian
pecinta mistis mengaitkan fenomena langit terhadap nasib dan karakter anak
manusia dan selainnya. Alhasil, lahirlah ilmu astrologi yang merupakan bagian
dari ilmu metafisika. Lalu muncullah para dukun, ahli nujum, dan peramal yang
kala itu membanjiri masyarakat Arab.
e. ilmu
meteorologi dan geofisika
Bangsa Arab mempelajari kondisi atmosfer bumi yang berguna sebagai indikator
dalam menentukan prakiraan cuaca. Ilmu ini awalnya hanyalah ilmu mengenai awan,
baik itu jenisnya, letaknya, dan semisalnya, untuk mengetahui dekatnya waktu
hujan. Namun ilmu ini kemudian berkembang sehingga berfungsi menentukan
prakiraan cuaca. Begitu juga dalam ilmu geofisika yang mempelajari bumi melalui
pendekatan ilmu fisika yang juga berfungsi mengetahui prakiraan cuaca.
Kita
ketahui bersama bahwa bangsa Arab adalah petualang padang pasir yang melegenda.
Bahkan sebagian mereka dari masyarakat Badui adalah kaum nomaden yang hidupnya
berpindah-pindah. Oleh karenanya, mereka sangat bergantung pada cuaca. Terlebih
lagi mereka memiliki musuh besar yang bernama Haboob alias badai gurun yang
bisa mengancam kapan saja ia suka.
f. Matematika.
Ilmuwan Muslim abad pertengahan banyak memberi¬kan sumbangan pada petumbuhan
matematika. Pada awalnya angka-angka yang dipakai berasal dari India (raqm al
Hindi) yakni angka 1,2,3,4,5, selanjutnya Al Khawarimi menciptakan angka
6,7,8,9 dan 0. Al Khawarizmi juga menemukan Alqarism (logaritma) dan kalkulus.
Demikian pula Al Tusi yang menggali geometri aljabar dengan kajian kurva
menggunakan rumus. Matematikawan Muslim terkemuka abad ini adalah Al
Khawarizmi, Umar al Khayyam (persamaan kubik dan persamaan derajat).
g. Ilmu
Kimia. Jabir bin Hayyan dikatakan sebagai “Bapak Ilmu Kimia”. Jabir membagi
benda terdiri atas tubuh (emas dan perak), nyawa (sulphur dan arsenik) dan akal
(mercury dan sal amoniak). Jabir juga memberikan dasar-dasar petunjuk mengenai
penguapan (evaporation), penyaringan (filtration), penghalusan (sublimation),
pencairan (melting), distillation dan crystallization. Tokoh lainnya adalah Al
Razi yang membagi benda menjadi unsure sayuran, hewan dan logam. Bahasa kimia
modern banyak diambil dari karya Al Razi.
h. Ilmu
Sejarah (Tarikh). Tokohnya adalah Al Waqidy, Al Maudy dan Al Thabary.
i. Geografi.
Al Khawarizmi dikenal sebagai kartografer (pembuat peta) tertua. Tumbuhnya ilmu
ini berawal dari kisah perjalanan. Daerah-daerah yang sudah dapat digambarkan
pada saat itu adalah Timur Tengah, India, Ceylon, Malaya, Indonesia, Cina,
Korea, Afrika dan Eropa.Tokoh lainnya adalah Ibn Haykal, Al Biruni, Ibn Jubair,
Ibn Batutah.
j. Seni
Rupa. Seni rupa yang berkembang adalah kaligrafi, arsitektur, tekstil, logam,
tembikar, kristal.
k. Seni
Musik, tokohnya antara lain Yunus ibn Sulaiman, Al Farabi (Alphanabius)
menciptakan alat musik Al Qanun (piano) dan Khalil ibn Ahmad.
l. Seni
Sastra. Tokohnya adalah Umar al Khayyam, Abu Nuwas, Jalaluddin al Rumy, Abu
Faras. Pada masa ini berkembang cerita termasyhur dengan judul Alf Lailah wa
Lailah (Seribu Satu Malam) namun tidak diketahui secara jelas siapa
pengarangnya.
m. Mesin
dan Teknologi. Kajian-kajian ilmu hitung melahirkan ilmu baru yakni ilmu
teknik, selanjutnya menimbulkan alat-alat bantu seperti mesin dan teknologi
terapan lainnya. Ilmuwan bidang ini misalnyaAl Khazini dengan karyanya Kitab al
Mizan al Hikmah (Buku tentang keseimbangan kebijaksanaan), berisi kajian statis
teoritis dan hidrostatis; Al Jazari dengan karyanya Kitab fi Ma’rifat al Hiyal
al Handasiyyah (Buku ilmu pengetahuan tentang bagian mekanis) berisi teori
dasar mesin. Karya-karya yang bersifat terapan antara lain saluran air bawah
tanah (qanat) di Iran dan bendungan di Afrika utara dan kincir air (norias) di Sungai
Orontes di Hama (Syria).
Pada
masa ini masalah gravitasi juga sudah dibahas oleh Abu Sahl al Kuhi dan Abu
Ishaq al Shabi, yaitu mengenai penentuan pusat gravitasi. Kajian ini
berlangsung jauh sebelum Newton (abad 17).
Agar guru dapat menggambarkan dengan jelas perkembangan ilmu pengetahuan Islam dalam perkembangan dunia serta perbandingannya dengan perkembangan ilmu di India, Cina dan Eropa, berikut ini disajikan skema histories perkembangan ilmu pengetahuan dunia dan peta penyebaran pemanfaatan produk iptek.
Agar guru dapat menggambarkan dengan jelas perkembangan ilmu pengetahuan Islam dalam perkembangan dunia serta perbandingannya dengan perkembangan ilmu di India, Cina dan Eropa, berikut ini disajikan skema histories perkembangan ilmu pengetahuan dunia dan peta penyebaran pemanfaatan produk iptek.
n. Ilmu
nasab. Ilmu inilah
yang menjadikan sejarah bangsa Arab begitu kuat. Bangsa Arab sangat menghormati
nasab. Mereka bisa menyebutkan nasab mereka hingga keturunan yang tak
terhingga. Konon seorang peranakan Arab yang tidak bisa menyebut nasabnya
hingga minimal sampai kepada kakeknya yang keempat atau kelima dianggap
melecehkan nasabnya sendiri. Berbeda dengan kita, orang Indonesia, yang
sebagian besar tidak tahu siapa nama kakek dari ayah kita.
o. ilmu
mencari jejak dan cikal bakal ilmu deduksi yang berguna dalam dunia
perdetektifan. Ilmu ini
disebut ilmu qifayah yang sering dikaitkan dengan teori menjajaki nasab dan
keturunan, penilaian asal usul seseorang melalui berbagai perangkat dan media
yang dapat digunakan kala itu. Bangsa Arab sangat lihai mencari jejak. Salah
satunya dengan jejak kaki. Mereka bisa membedakan berbagai jenis jejak kaki,
dari manusia hingga hewan melata. Hebatnya lagi, mereka bisa mengetahui siapa
pemilik jejak kaki itu, berapa usianya, berapa lama ia telah meninggalkan
tempat tersebut dan semisalnya. So amazing!
Mereka
jika dapat mengenali jejak dengan segala apa yang ada di sekitar mereka, mulai
dari biji kurma, ranting kering, darah yang berceceran, keringat, kotoran, atau
ludah yang mengering di bebatuan, bulu binatang, dan apa saja yang ditinggalkan
si pemilik jejak tersebut.
BAB III
KESIMPULAN
Pada
masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin Ilmu pengetahuan didasari oleh
Al-Quran/Asunnah dan kontak budaya dengan bangsa lain. Saat itu masih sedikit
sekali yang mampu membaca dan berilmu pengetahuan, kemudian saat turun wahyu
kepada Rasulullah surat Al-‘alaq ayat 1-5 mengenai perintah membaca dan Surat
Al-Mujadillah ayat 11 mengenai keutamaan orang yang berilmu pengetahuan, maka
masyarakat Arab pun mulai belajar membaca dan belajar menulis,
sehingga melahirkan muslim-muslim yang mempunyai kemampuan dalam berbagai
bidang. Kemudian bermunculan pula berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu Nahwu,
Ilmu tafsir serta Ilmu lainnya.
Pada masa Bani Umayyah Ilmu
pengetahuan selamakin kompleks dikarenakan para ilmuan yang semula kafir
kemudian masuk Islam membawa diantaranya, ilmu kedokteran, ilmu kimia, diadakannya
rumah sakit, pembukuan hadits, dan ilmu logika. Secara garis besarnya adalah
Ilmu pengetahuan agama, Ilmu sejarah, Ilmu bahasa, Ilmu filsafat.
Pada masa Bani Abbasiyah Ilmu
pengetahuan dirintis oleh Khalifah Ja’far al Mansur dan mencapai puncak keemasan
pada masa Khalifah Harun al Rasyid. Perkembangan ilmu pada masa ini
dikelompokkan menjadi 2, pertama ilmu naqli yaitu ilmu tafsir, ilmu hadits,
ilmu kalam, ilmu tasawwuf, ilmu bahasa, dan ilmu fiqh. Dan kedua Ilmu aqli
yaitu ilmu filsafat, ilmu kedokteran, ilmu optik, ilmu astronomi, ilmu
meteorologi, matematika, ilmu kimia, ilmu sejarah, geografi, seni rupa, seni
musik, seni sastra, mesin dan teknologi, ilmu nasab, dan ilmu mencari jejak.
الخلاصة
في الزمان رسول الله و الخلافاء الراشدين العلوم اسس بالقرآن,السنة و
الرابطة الثقافة مع شعب آخر. حين ذاك قليل جدا من الذي يستطيع القراءة و العلوم, ثم حين نزل
وحي الي الرسول الله سورة العلق آية 1-5 عن أمر بقراءة و سورة المجادلة آية 11 عن فضيلة
العلوم لناس, فبدأ المجتمع العربي درس القراءة و درس الكتابة, حتى ولد المسمون الذي تمكن فى
طاقة مختلفة. ثم جاء انضباط العلم المختلفة, مثل العلم نحوى, العلم تفسير, و غير
ذالك.
فى زمان بنى اماية العلوم زاد المركب لأن العلماء الذى قبله الكفرون دخلوا الإسلام وحمل العلم الطب,
كيمياء, مكون
المستشفى, سجل الحديث, و
العلم العقل. فى المجمل هو العلم الدين, العلم التريخ, العلم اللغة, العلم فلسفة.
فى زمان بنى ابا شيةالعلوم سباق بخليفة جعفر المنسور وقضي هامة في خليفة هارن الرشيد. تقدم العلوم فى هذا
الزمان كتل الثاني, الأول هو العلم نقلي هو العلم التفسير, العلم الحديث, العلم
الكلام, العلم تسوف, العلم اللغة, والعلم الفقه. والثاني العلم عقلي هو العلم
الفلسفة, العلم الطب, الغلم البصري, العلم الفلك, العلم النجوم, العلم
الرياضيات,العلم كيمياء,العلم التريخ, العلم جغرافيو, الفن الونون, الفن المسيقي,
الفن ادب, الألةو تقني, العلم نصب, العلم المباحث.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar