The Miracle Of Qur’an
Resume
![]() |
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Tutorial
Pendidikan Agama Islam
Oleh :
Keuis Siti Sa’adah
(1406899)
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA
DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN
INDONESIA
2014
A.
Pengertian Mukjizat
Menurut bahasa kata Mu’jizat berasal
dari katai’jaz diambil dari kata kerja a’jaza-i’jaza yang
berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya (yang melemahkan)
dinamai mu’jiz. Bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat
menonjol sehingga mampu membungkam lawan, ia dinamai mu’jizat.
Menurut istilah Mukjizat adalah peristiwa
luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku Nabi, sebagai bukti
kenabiannya. Dengan redaksi yang berbeda, mukjizatdidefinisikan
pula sebagai suatu yang luar biasa yang diperlihatkan Allah SWT. Melalui para
Nabi dan Rasul-Nya, sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan
kerasulannya.
Kata I’jaz dalam bahasa
Arab berarti menganggap lemah kepada orang lain. Sebagimana Allah berfirman:
(المائدة: 31)أَعْجَزَتُ أَنْ أَكُوْنَ مِثْلَ هَذَاالْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِيْ
“…Mengapa aku tidak mampu berbuat
seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini” (QS. Al Maidah (5): 31)
Maksud kumukjizatan Al-Qur’an bukan semata mata untuk melemahkan manusia
atau menyadarkan mereka atas kelemahanya untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an
akan tetapi tujuan yang sebenarnya adalah untuk menjelaskan kebenaran Al-Qur’an
dan Rasul yang membawanya dan sekaligus menetapkan bahwa sesuatu yang dibawa
oleh mereka hanya sekedar menyampaikan risalah Allah SWT, mengkhabarkan dan
menyerukan.
Unsur-unsur mukjizat, sebagaimana dijelaskan oleh Quraish Shihab, adalah:
1.
Hal atau peristiwa yang luar biasa
Peristiwa-peristiwa alam, yang terlihat sehari-hari,
walaupun menakjubkan, tidak dinamai mukjizat. Hal ini karena
peristiwa tersebut merupakan suatu yang biasa. Yang dimaksud dengan “luar
biasa” adalah sesuatu yang berbeda di luar jangkauan sebab akibat yang
hukum-hukumnya diketahui secara umum. Demikian pula dengan hipnotis dan sihir,
misalnya sekilas tampak ajaib atau luar biasa, karena dapat dipelajari, tidak
termasuk dalam pengertian “luar biasa” dalam definisi di atas.
2.
Terjadi atau dipaparkan oleh seseorang yang mengaku Nabi.
Hal-hal di luar kebiasaan tidak mustahil
terjadi pada diri siapapun. Apabila keluarbiasaan tersebut bukan dari seorang
yang mengaku Nabi, hal itu tidak dinamai mukjizat. Demikian pula sesuatu
yang luar biasa pada diri seseorang yang kelak bakal menjadi Nabi ini pun tidak
dinamai mukjizat, melainkan irhash. Keluarbiasaan itu
terjadi pada diri seseorang yang taat dan dicintai Allah, tetapi inipun tidak
disebut mukjizat, melainkan karamah atau kerahmatan.
Bahkan, karamah ini bisa dimiliki oleh seseorang yang durhaka
kepada-Nya, yang terakhir dinamai ihanah (penghinaan)
atau Istidraj (rangsangan untuk lebih durhaka lagi).
Bertitik tolak dari kayakinan umat Islam
bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah Nabi terakhir, maka jelaslah bahwa tidak
mungkin lagi terjadi suatu mukjizatsepeninggalannya. Namun, ini
bukan berarti bahwa keluarbiasaan tidak dapat terjadi dewasa ini.
3.
Mendukung tantangan terhadap mereka yang meragukan kenabian
Tentu saja ini harus bersamaan dengan
pengakuannya sebagai Nabi, bukan sebelum dan sesudahnya. Di saat ini, tantangan
tersebut harus pula merupakan sesuatu yang berjalan dengan ucapan sang Nabi.
Kalau misalnya ia berkata, “batu ini dapat bicara”, tetapi ketika batu
itu berbicara, dikatakannya bahwa “Sang penantang berbohong”, maka
keluarbiasaan ini bukan mukjizat, tetapi ihanah atau istidraj.
4.
Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani
Bila yang ditantang berhasil melakukan
hal serupa, ini berarti bahwa pengakuan sang penantang tidak terbukti. Perlu
digarisbawahi di sini bahwa kandungan tantangan harus benar-benar dipahami oleh
yang ditantang. Untuk membuktikan kegagalan mereka, aspek kemukjizatan
tiap-tiap Nabi sesuai dengan bidang keahlian umatnya.
B.
Segi-segi Kemukjizat Al-Qur'an
1. Gaya Bahasa
Gaya bahasa Al-Qur’an membuat orang Arab pada
saat itu merasa kagum dan terpesona, bukan saja orang-orang mukmin, tetapi juga
bagi orang-orang kafir. Kehalusan ungkapan bahasanya membuat banyak diantara
mereka masuk Islam. Bahkan, Umar bin Khattab pun yang mulanya dikenal sebagai
orang yang paling memusuhi nabi Muhammad SAW, dan bahkan berusaha membunuhnya,
memutuskan masuk Islam dan beriman pada kerasulan Muhammad hanya karena membaca
petikan ayat-ayat Al-Qur-an. Susunan Al-Qur-an tidak dapat disamakan oleh karya
sebaik apa pun.
2.
Susunan Kalimat
Kendatipun Al-Qur-an, hadis qudsi, dan hadis nabawi sama-sama
keluar dari mulut nabi, terapi uslub (style) atau susunan
bahasanya sangat jauh berbeda.Uslub bahasa Al-Qur-an jauh lebih
tinggi kualitasnya bila dibandingkan dengan lainya. Al-Qur-an muncul dengan uslub yang
begitu indah. Didalam uslub tersebut terkandung nilai-nilai
istimewa yang tidak akan pernah ada ucapan manusia.
3.
Hukum Illahi yang Sempurna
Al-Qur-an menjelaskan pokok-pokok aqidah, norma-norma
keutamaan, sopan-santun, undang-undang ekonomi, politik, sosial, dan
kemasyarakatan, serta hukum-hukum ibadah. Al-Qur-an menggunakan dua cara
tatkala menetapkan sebuah ketentuan hukum, yakni:
a.
Secara global
Persoalan ibadah umumnya diterangkan secara global, sedangkan perincianya
diserahkan kepada ulama melalui ijtihad.
b.
Secara terperinci
Hukum yang dijelaskan secara terperinci adalah yang berkaitan dengan utang
piutang, makanan yang halal dan yang haram, memelihara kehormatan wanita, dan
masalah perkawinan.
4.
Ketelitian Redaksinya
Ketelitian redaksi Al-Qur-an bergantung pada hal berikut:
a.
Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya.
b.
Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang
dikandungnya.
c.
Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjukan
akibatnya.
d.
Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.
e.
Disamping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbang
khusus.
1)
Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali,
sebanyak hari-hari dalam setahun, sedangkan kata hari yang menunjukan bentuk
plural (ayyam) atau dua (yawmayni), berjumlah tiga puluh, sama
dengan jumnlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti bulan (syahr)
hanya terdapat dua belas kali sama dengan jumlah bulan dalam setahun.
2)
Al-Qur-an menjelaskan bahwa langit itu ada tujuh macam. Penjelasan ini
diulangi sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam surat Al-Baqarah [2] ayat
29, surat Al-Isra [17] ayat 44, suratAl-Mukmin [23] ayat 86,
surat Al-Fushilat [41] ayat 12, surat Ath-Thalaq [65] ayat
12, surat Al-Mulk [67] ayat 3, dan surat Nuh [71] ayat
15. Selain itu, penjelasan tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam
hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.
3)
Kata-kata yang menunjukan kepada utusan Tuhan, baik rasul atau nabi
atau basyir(pembawa berita gembira) atau nadzir (pemberi
peringatan), kesemuanya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah
penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518.
5.
Berita tentang Hal-hal yang Gaib
Sebagaimana ulama mengatakan bahwa sebagian mukjizat Al-Qur'an
itu adalah berita gaib. Salah satu contohnya adalah Fir’aun, yang
mengejar-ngejar Nabi Musa. Hal ini, diceritakan dalam surat Yunus
(10) ayat 92:
“Maka pada hari Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”
“Maka pada hari Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”
Pada ayat itu ditegaskan bahwa badan Firaun akan
diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Tidak
seorang pun mengetahui hal tersebut karena telah terjadi sekitar 1.200 tahun
SM. Pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1896 di lembah raja-raja Luxor
Mesir, seorang ahli purbakala Loret menemukan satu mumi, yang dari data-data
sejarah terbukti bahwa ia Firaun yang bernama Muniftahyang pernah
mengejar Nabi Musa a.s. selain itu pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith
mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut-pembalut Firaun
tersebut. Apa yang ditemukannya satu jasad utuh, seperti yang diberitakan
Al-Qur'an melalui Nabi yangummy (tidak pandai membaca dan menulis).
6.
Isyarat-isyarat Ilmiah
Banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam
Al-Qur’an misalnya:
a.
Cahaya matahari bersumber dari dirinya dan cahaya bulan merupakan pantulan.
Terdapat dalam Q.S. Yunus [10]: 5.
b.
Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakan napas, hal ini terdapat
pada surat Al-An’am [6]: 25
c.
Perbedaan sidik jari manusia. Terdapat dalam surat Al-Qiyamah [75]:
4
d.
Aroma/bau manusia berbeda-beda. Terdapat dalam surat Yusuf [12]: 94
e.
Masa penyusuan yang tepat dan kehamilan minimal. Terdapat
dalam surat Al-Baqarah [2]: 233
f.
Adanya nurani (super ego) dan bawah sadar manusia. Terdapat
dalam surat Al-Qiyamah [75]: 14
g.
Yang merasakan nyeri adalah kulit. Terdapat dalam surat Al-Qiyamah
[75]: 4
