Rabu, 09 November 2016

Akhlak Bermasyarakat

PEMBINAAN AKHLAK DALAM  MEWUJUDKAN KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG TERHORMAT


MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tahzib Akhlak
Dosen Pengampu :
Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd
   
   
Oleh:
Keuis Siti Sa’adah                 1406899
Zahyani Annisa Issaura         1403484


DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2016
   
     KATA PENGANTAR

بــــــســــم الله الرحمن الرحيـــــــم
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi nikmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan yang diharapkan. Kemudian shalawat beserta salam senantiasa penulis sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah membawa risalah serta pedoman hidup yakni Al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.

Makalah ini berjudul “Pembinaan Akhlak Dalam Mewujudkan Kehidupan Masyarakat yang Terhormat” yang disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tahdzib Akhlak yang dibimbing oleh Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd. Adapun materi yang penulis bahas dalam makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pembinaan akhlak dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang terhormat dan sesuai dengan syariat Islam.

Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit penulis menemukan hambatan dan kesulitan, namun berkat dorongan dan do’a restu dari berbagai pihak,  Alhamdulillah semua ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada  makalah ini, maka penulis mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun bagi kemajuan pengetahuan penulis dalam hal perbaikan makalah ini kedepannya.

Kami mengucapkan terima kasih dan diharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya. Aamiin.
                                                                   
                                                                              Bandung, 25 September 2016


                                                                                               Penulis


DAFTAR ISI
Halaman Judul
KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1  Latar Belakang Masalah...................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah............................................................................... 2
1.3  Tujuan.................................................................................................. 2
1.4  Manfaat................................................................................................ 2
1.5  Metode................................................................................................. 3
1.6  Sistematika Penulisan.......................................................................... 3
BAB II LANDASAN TEORI......................................................................... 4
2.1  Pengertian Akhlak dan Pendidikan Akhlak........................................ 4
2.2  Tujuan Pendidikan Bermasyarakat..................................................... 4
2.3  Proses Pembentukan Akhlak............................................................... 8
2.4  Cara memperbaiki akhlak dalam bermasyarakat ............................... 9
2.5 Kendala dalam memperbaiki akhlak di masyarakat........................... 10
BAB III PEMBAHASAN............................................................................... 8
3.1  Akhlak Bertamu Dan Menerima Tamu.............................................. 11
3.2  Akhlak Bertetangga............................................................................ 13
3.3  Akhlak  Terhadap Sesama Muslim.................................................... 14
3.4 Akhlak Terhadap Orang Yang Berbeda Agama................................ 15
BAB IV SIMPULAN DAN REKOMENDASI............................................. 17
4.1  Simpulan............................................................................................. 17
4.2  Rekomendasi...................................................................................... 18
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Masyarakat Menurut Soetomo (2011 : 25) adalah sekumpulan orang yang saling berinteraksi secara kontinyu, sehingga terdapat relasi sosial yang terpola, terorganisasi. Adapun ruang lingkup interaksinya sangatlah luas, seperti interaksi antar tetangga, interaksi antara tamu dan penerima tamu, interaksi sesama muslim dan bahkan interaksi dengan orang yang berbeda agama, dan lain sebagainya.
Dalam berinteraksi, sangatlah penting bagi kita untuk berperilaku baik atau sering disebut juga berakhlak terpuji/mulia karena dengan akhlak terpujilah kehidupan manusia menjadi tenteram, bahagia, aman, dan penuh cinta.
Di era masa kini, penerapan akhlak terpuji dalam bermasyarakat cenderung kurang dan terlihat memprihatinkan, dalam kehidupan bertetangga pun masyarakat kota cenderung lebih individualis sementara masyarakat pedesaan memang masih berhubungan erat namun sering kali menggunjing tetangga yang lainnya.
Dalam menerima tamu, masyarakat sekarang sering melupakan hak-hak dan kewajiban seorang tamu dan penerima tamu. Dalam berakhlak dengan sesama muslim, beberapa orang sering kali fanatik hanya karena ormasnya berbeda, dan kebanyakan manusia tidak menyukai manusia lain yang berbeda agama dengannya.
Berbagai permasalahan diatas menjadi latar belakang kami untuk menulis makalah bertajuk akhlak bermasyarakat yang kami beri judul “Akhlak terpuji dalam kehidupan bermasyarakat”.



B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang menjadi batasan pembahasan makalah ini adalah, sebagai berikut :
1.      Apakah yang dimaksud dengan Akhlak bermasyarakat?
2.      Apa Ayat Al-Qur’an dan hadits tentang akhlak bertamu dan menerima tamu?
3.      Apa Ayat Al-Qur’an dan hadits tentang akhlak bertetangga?
4.      Apa Ayat Al-Qur’an dan hadits tentang akhlak terhadap sesama muslim?
5.      Apa Ayat Al-Qur’an dan hadits tentang akhlak terhadap orang yang berbeda agama?
C.    Tujuan
1.      Tujuan Umum
Tujuan Umum makalah ini adalah untuk mengetahui konsep akhlak terpuji dalam kehidupan bermasyarakat dan menerapkannya dikehidupan sehari-hari.
2.      Tujuan Khusus
Adapun tujuan khususnya yaitu :
a.       Untuk mengetahui pengertian Akhlak Bermasyarakat
b.      Untuk mengetahui Ayat Al-Qur’an dan hadits tentang akhlak bertamu dan menerima tamu
c.       Untuk mengetahui Ayat Al-Qur’an dan hadits tentang akhlak bertetangga
d.      Untuk mengetahui Ayat Al-Qur’an dan hadits tentang akhlak  terhadap sesama muslim
e.       Untuk mengetahui Ayat Al-Qur’an dan hadits tentang akhlak terhadap orang yang berbeda agama
D.    Manfaat
1.      Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis makalah ini adalah :
a.       Memperkuat definisi akhlak dan masyarakat.
b.      Menambah wawasan mengenai tatakrama atau akhlak terpuji dalam bermasyarakat.
2.      Manfaat Praktis
Adapun manfaat praktisnya yaitu :
a.       Memudahkan mahasiswa atau masyarakat dalam memahami pengertian akhlak bermasyarakat
b.      Membantu mahasiswa atau masyarakat dalam memahami akhlak terpuji dalam bermasyarakat serta menerapkannya.
E.     Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan studi pustaka yaitu dengan mencari referensi-referensi dari beberapa buku. Kemudian penulis menganalisis apa yang dibaca untuk dituliskan dalam makalah ini
F.     Sistematika Penulisan
Makalah ini tersusun dari beberapa bab, yaitu bab satu membahas mengenai pendahuluan yang terdiri dari beberapa sub bab, diantaranya latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat, metode penulisan dan sistematika penulisan. Kemudian bab dua membahas mengenai landasan teori yang terdiri dari lima sub bab, diantaranya pengertian akhlak bermasyarakat,  akhlak bertetangga, akhlak bertamu dan menerima tamu, akhlak terhadap saudara seIslam dan akhlak terhadap saudara berbeda agama. Adapun bab tiga membahas mengenai pembahasan yang terdiri dari akhlak bertamu dan menerima tamu, akhlak bertetangga, akhlak terhadap saudara seIslam dan akhlak terhadap saudara berbeda agama. Dalam bab empat membahas mengenai simpulan dan rekomenasi terdiri dari dua sub bab yaitu simpulan dan rekomendasi.



BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Pengertian Akhlak dan Masyarakat
Secara bahasa Akhlak (bahasa Arab : akhlaq) berarti bentuk kejadian; dalam hal ini tentu bentun batin seseorang. (Murni, 1984 : 194).
Kata akhlaq merupakan bentuk jama’ dari kata khuluq. Kata khuluq disebutkan dalam Al-Qur’an :
وَ إِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ (سورة القلم : 4)
Yang artinya : “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Firman Allah tersebut menunjukkan bahwa kata khuluq merupakan perilaku Rasulullah saw. Yang telah menjadi kebiasaan. Menurut Quraish Shihab, kata khuluq dalam ayat tersebut jika tidak dibarengi dengan objektifnya, maka berarti budi pekerti yang luhur, tingkah laku dan watak terpuji. (Shihab 2005 : 380).
            Menurut Imam Al-Ghazali ( 2003 : 1034) akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan.
            Berdasarkan pengertian akhlak diatas, dapat dipahami bahwa akhlak memiliki beberapa indikator, yaitu : Pertama, pada dasarnya akhlak adalah perbuatan lahiriah yang menunjukkan keadaan jiwa. Kedua, perbuatan akhlak tersebut ialah secara mudah dan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan. Ketiga, perbuatan yang dibiasakan atau telah menjadi kebiasaan. Keempat, perbuatan akhlak dilakukan berdasarkan kesadaran. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa akhlak sebenarnya merupakan bentuk batin seseorang, dimana untuk mengetahuinya dapat dilihat dari perilaku-perilaku yang ditampilkan.
            Sedangkan Masyarakat Menurut Soetomo (2011 : 25) adalah sekumpulan orang yang saling berinteraksi secara kontinyu, sehingga terdapat relasi sosial yang terpola, terorganisasi.
            Jadi dapat dipahami bahwa akhak bermasyarakat adalah perilaku manusia yang secara sadar dan terbiasa dalam berinteraksi dengan manusia lain atau hubungan interaksi sekelompok orang yang terus-menerut dengan perbuatan yang telah dibiasakan atau terbiasa.
B.     Akhlak Bertamu dan Menerima Tamu
1.      Al-Qur’an
يآيّها الّذين أمنوا ﻻ تدخلوا بيوتا غير بيوتكم حتّى تستأنسوا و تسلّموا على أهلها ذلكم خير لّكم لعلّكم تذكّرون (النّور : 27)
“ Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta ijin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, agar kamu (selalu) ingat” (QS. An-Nur: 27)
Berkaitan dengan ayat di atas, Jalaluddin AS-Suyuthi (2008:401) mengatakan bahwa “Al-Faryabi dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari 'Adi bin Tsabit bahwa seorang wanita Anshor datang dan berkata, “wahai Rasulullah, di rumah saya berada dalam keadaan yang saya harap tidak ada seorangpun yang melihat saya dalam keadaan itu, akan tetapi selalu saja ada seseorang lelaki dari keluarga saya yang masuk rumah sementara saya berada dalam keadaan tersebut. Apa yang harus saya perbuat?” Maka turunlah ayat “Wahai orang-orang beriman janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu...””
2.      Al-Hadits
عن أبي هريرة عن رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم قال من كان يؤمن باللّه و اليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت و من كان يؤمن باللّه و اليوم الأخر فليكرم جاره و من كان يؤمن باللّه و اليوم الأخر فليكرم ضيفه  (رواه البخاري و مسلم)
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
C.    Akhlak dalam hidup bertetangga
1.      Al-Qur’an
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (النساء : 36)
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)
2.      Al-Hadits
عن أبي هريرة عن رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم قال من كان يؤمن باللّه و اليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت و من كان يؤمن باللّه و اليوم الأخر فليكرم جاره و من كان يؤمن باللّه و اليوم الأخر فليكرم ضيفه (رواه البخاري و مسلم)
“Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, ia bersabda 'Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya'.” (HR. Bukhari dan Muslim)

D.    Akhlak terhadap Saudara SeIslam
1.      Al-Qur’an
إنّما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم و اتّقوا الله لعلّكم ترحمون (الحجرات : 10)
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-أujurat:10)


2.      Al-Hadits
أنّ أبا هريرة قال قال رسول الله صلّى الله عليه و سلم خمس تجب للمسلم على أخيه ردّ السّلام و تشميت العاطس و إجاية الدّعوة و عيادة المريض و اتّباع الجنائز (رواه المسلم)
“Bahwa Abu Hurairah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW ‘kewajiban seorang muslim terhadap sesama muslim ada lima: menjawab salam, mendoakan yang bersin, memenuhi undangan, mengunjungi yang sakit, dan ikut mengantarkan jenazah’.” (HR. Muslim)
E.     Akhlak Terhadap Orang yang Berbeda Agama
1.      Al-Qur’an
وما أرسلناك إلّا رحمة للعالمين ( الأنبياء:107)
“Dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya:107).
2.      Al-Hadits
عن أبي هريرة أنّ رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم قال لا تبدئوا اليهود ولا النّصارى بالسّلام فإذا لقيتم أحدهم في طريق فاضطرّوه إلى أضيقه (رواه المسلم)
“Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda 'Janganlah kalian mendahului orang-orang Yahudi dan Nasrani memberi salam. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang diantara mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit’.” (HR. Muslim).


BAB III
PEMBAHASAN
Akhlak Terpuji dalam Kehidupan Bermasyarakat
            Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya mengenai ayat Al-Qur’an dan hadits yang berkaitan erat dengan akhlak bermasyarakat, pada bab ini penulis akan membahas lebih rinci mengenai penerapannya dalam kehidupan. Berikut penjelasannya.
A.    Akhlak Bertamu dan Menerima Tamu
Bertamu adalah berkunjung ketempat kediaman orang lain. Adapun maksud dari kunjungan itu biasanya karena adanya suatu keperluan. Bertamu dengan maksud yang baik dan dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah SWT serta untuk memperoleh ridha-Nya termasuk kedalam silahturahmi. Silaturahmi dianjurkan oleh agama Islam. 
Dalam bertamu ada beberapa tata cara atau adab yang harus diperhatikan, agar suasana pertemuan tidak rusak karena adanya hal-hal yang tidak berkenan dihati masing-masing pihak. Diantara tata cara itu contohnya yaitu sebagai berikut :
1)      Berpakain rapi dan pantas
2)      Memberikan  isyarat dan salam ketika hendak bertamu
3)      Jangan mengintip ke dalam rumah
4)      Memita izin masuk maksimal sebanyak 3 kali
Apabila kita bertamu sudah tiga kali meminta izin tapi tidak ada jawaban dari tuan rumah maka hendaknya pulang dan kembali lagi di waktu lain .
5)      Memperkenalkan diri kepada tuan rumah
6)      Tamu laki – laki dilarang masuk apabila tuan rumah hanya seorang wanita
Hal ini dijelaskan di dalam suatu hadist bahwasanya Rasulullah saw bersabda :
“Janganlah seorang laki – laki bersepi – sepi bersama seorang perempuan kecuali ia (perempuan tersebut ) bersama mahramnya . . . . .” ( HR.Bukhari Muslim )
7)      Masuk lalu duduk dengan sopan
8)      Menerima semua jamuan tuan rumah dengan senang hati .
9)      Bersegera pulang apabila telah selesai urusan
10)  Lama waktu kunjungan yaitu paling lama 3 hari tiga malam , apabila tempat tinggalnya jauh
Adapun dalam menerima tamu, tuan rumah diharuskan pula menerimanya dengan akhlak yang mulia, berikut ini Adab menerima tamu, yaitu :
1)      Berpakain yang pantas
2)      Saat menerima kedatangan tamu harus bersikap yang baik
Contoh sikap yang baik yaitu menerima tamu dengan wajah yang ceria dan murah senyum
3)      Tidak merepotkan diri
Bagi tuan rumah hendaknya menyediakan jamuan yang pantas , akan tetapi apabila tuan rumah seorang yang tidak punya maka air putih saja juga sudah cukup. Dan apabila air putih juga tidak punya maka jamulah dengan senyum dan sikap yang baik.
4)      Lama waktu sesuai dengan hak tamu yakni tiga hari tiga malam, selebihnya dari waktu itu merupakan sadaqoh darinya
Sebagaimana sabda nabi saw :
“Hormatilah tamu sampai tiga hari , adapun selebihnya adalah merupakan shadaqoh darinya .” ( HR. Muttafaqun’alaihi )
5)      Antarkan sampai pintu halaman jika tamu pulang
Sebagaimana sabda Rosululloh saw :
”Sesungguhnya merupakan perbuatan yang sunnah apabila seseorang ( Tuan rumah )keluar bersama – sama tamunya sampai kepintu halaman .” ( HR.Ibnu Majjah )
6)      Wanita yang sendirian di rumah dilarang menerima tamu laki – laki masuk dalam rumah tanpa seizin suami

B.     Akhlak dalam Hidup Bertetangga
1)      Menghormati Tetangga dan Berperilaku Baik Terhadap Mereka
Diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaq ‘alaih).
2)      Bangunan Rumah Kita Jangan Mengganggu Tetangga
3)      Memelihara Hak-hak Tetangga, Terutama Tetangga yang Paling Dekat
Diantara hak tetangga yang harus kita pelihara adalah menjaga harta dan kehormatan mereka dari tangan orang jahat baik saat mereka tidak di rumah maupun di rumah, memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata dari keluarga mereka yang wanita dan merahasiakan aib mereka.
4)      Tidak Mengganggu Tetangga
Seperti mengeraskan suara radio atau TV, melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutupi jalan bagi mereka. Seorang mukmin tidak dihalalkan mengganggu tetangganya dengan berbagai macam gangguan.
5)      Jangan Kikir untuk Memberikan Nasehat dan Saran kepada Mereka
Sudah seharusnya kita mengajak mereka agar berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasehat baik, tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekan mereka. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wassallam bersabda, “Agama itu nasehat.” Kami (para shahabat) bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,
لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Artinya: “Untuk Allah, Kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin” (HR. Muslim (no.55); Ahmad (no.16493); an-Nasa’I (no.4197); dan Abu Dawud (no.4944)).
6)      Memberikan Makanan kepada Tetangga
Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam bersabda kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
Artinya: “Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu” (HR. Muslim). Adapun tetangga yang pintunya lebih dekat dari rumah kita agar lebih didahulukan untuk diberi.
7)      Bergembira ketika Mereka Bergembira dan Berduka ketika Mereka Berduka
8)      Tidak Mencari-cari Kesalahan Tetangga
9)      Sabar Atas Perilaku Kurang Baik Mereka
C.    Akhlak kepada Sesama Muslim
Berikut ini adalah tips-tips dari Rasulullah saw bagaimana cara berinteraksi dengan sesama muslim.
1)      Mencintai muslim lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri.
2)      Menyukai apa yang disukai muslim lain sebagaimana dirinya menyukai apa yang dia sukai, dan membenci apa yang dibenci muslim lain sebagaimana dirinya membenci apa yang dia benci.
3)      Tidak menyakiti muslim lain dengan perbuatan atau perkataan.
4)      bersikap tawadhu kepada setiap muslim dan tidak sombong kepadanyaز
5)      Tidak menyampaikan berita atau gunjingan kepada sebagian yang lain tentang apa yang didengarnya dari sebagian yang lain.
6)      Kalau marah, maka tidak boleh mengindarinya lebih dari tiga hari.
7)      Melakukan kebaikan kepada setiap muslim semampunya dengan tidak membedakan antara keluarga dan yang bukan keluarga.
8)      Bersikap sopan kepada setiap muslim dengan akhlaq yang baik dan berinteraksi dengan mereka sesuai dengan keadaannya.
9)      Menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.
10)  Bersikap adil dan tidak melakukan sesuatu kepada muslim lain kecuali apa yang ia sukai untuk diperlakukan kepada dirinya.
11)  Menghormati muslim lain yang penampilan dan pakaiannya menunjukkan kedudukannya sehingga dirinya bisa menempatkannya sesuai dengan kedudukannya.
12)  Mendamaikan sesama muslim yang bersengketa jika menemukan jalan (penyelesaian) ke arah itu.
13)  Menutupi aib setiap muslim.
14)  Menghindari tempat-tempat yang bisa mendatangkan tuduhan demi untuk menjaga hati orang lain agar tidak berburuk sangka dan juga untuk menjaga lidah mereka agar tidak menggunjing.
15)  Menjaga kehormatan jiwa dan harta saudaranya sesama muslim dari kezhaliman orang lain apabila dirinya mampu membela dan menolong serta mampu memperjuangkannya sebab itu merupakan kewajiban baginya.
16)  Menjawab ucapan muslim lain yang bersin.
17)  Menjenguk muslim yang sakit.
18)  Mengantar (mengiringi) jenazah muslim yang meninggal.
19)  Menziarahi kuburan muslim.

D.    Akhlak kepada Orang-orang yang Berbeda Agama
1)      Tidak menyetujui dan tidak ridha terhadap kekufurannya. Karena ridha terhadap kekufuran merupakan salah satu kekufuran.
2)      Membenci orang kafir karena Allah ‘Azza wa Jalla juga benci kepadanya. Namun ingat, yang perlu digaris-bawahi membenci itu bukan berarti menzalimi. Allah membenci orang-orang kafir, tapi Allah tidak zalim kepada mereka bahkan masih Allah berikan kenikmatan dunia kepada mereka.
3)      Tidak memberikan wala’ (kedekatan; loyalitas, kesetiaan) dan kecintaan kepada orang kafir. Allah Ta’ala berfirman :
لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ
“Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman akrab; pemimpin; pelindung; penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin.” (QS. Ali Imran: 28).
4)      Bersikap adil dan berbuat baik kepadanya, selama orang kafir tersebut bukan kafir muharib (orang kafir yang memerangi kaum muslimin).
5)      Mengasihi orang kafir dengan kasih sayang yang bersifat umum. Seperti memberi makan jika dia lapar; memberi minum jika haus; mengobatinya jika sakit; menyelamatkannya dari kebinasaan; dan tidak mengganggunya.
6)      Tidak mengganggu harta, darah, dan kehormatan, selama dia bukan kafir muharib. Karena itu merupakan kezhaliman yang dilarang oleh Allah SWT.
7)      Boleh memberikan hadiah kepadanya dan boleh juga menerima hadiah darinya serta diperbolehkan memakan daging sembelihan ahli kitab. Allah ‘Azza wa Jallaberfirman :
وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ
“Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu.” (QS. Al-Maidah: 5).
8)      Tidak boleh menikahkan wanita muslimah dengan laki-laki kafir (walaupun lelaki ini Ahli kitab). Dan laki-laki muslim tidak boleh menikahi wanita kafir, kecuali wanita ahli kitab.



BAB IV
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A.    Simpulan
1)      Simpulan Umum
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, penulis dapat mengungkapkan simpulan secara umum yaitu perlunya seseorang membiasakan diri untuk berakhlak baik dalam masyarakat sehingga akhlak itu menjadi karakter dirinya.
2)      Simpulan Khusus
Adapun simpulan secara khusus yaitu :
a.       Mengetahui pengertian akhlak bermasyarakat yaitu perilaku manusia yang secara sadar dan terbiasa dalam berinteraksi dengan manusia lain atau hubungan interaksi sekelompok orang yang terus-menerut dengan perbuatan yang telah dibiasakan atau terbiasa.
b.      Mengetahui ayat al-qur’an dan hadits yang berkaitan tentang akhlak bertamu dan menerima tamu yaitu bahwasanya kita diperintahkan meminta izin terlebih dahulu sebelum memasuki rumah orang lain dan diperintahkan untuk memuliakan tamu
c.       Mengetahui ayat al-qur’an dan hadits yang berkaitan tentang akhlak bertetangga yaitu bahwasanya kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada tetangga dan memuliakannya.
d.      Mengetahui ayat al-qur’an dan hadits yang berkaitan tentang akhlak kepada sesama muslim yaitu kita diperintahkan untuk mendamaikan saudara-saudara semuslim kita dan menjawab salam, mendoakan yang bersin, memenuhi undangan, mengunjungi yang sakit, dan ikut mengantarkan jenazah’.
e.       Mengetahui ayat al-qur’an dan hadits yang berkaitan tentang akhlak kepada orang yang berbeda agama yaitu kita diperintahkan untuk menyayanginya dan tidak mendahului mengucapkan salam pada mereka.
B.     Rekomendasi
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih sangatlah jauh dari kata sempurna. Maka disarankan kepada para pembaca untuk membaca sumber lain yang sesuai sehingga dapat memperkaya pengetahuan pembaca. Kedepannya  penulis akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah yang akan ditulis dengan sumber-sumber yang lebih banyak lagi yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.



DAFTAR PUSTAKA
Murni, DJamal. (1984). Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta : Departemen Agama
Ghazali, Imam. (2003). Ihya’ Ulumuddin, terj. Ismail Ta’kub. (Singapura : Pustaka Nasional)
Shihab, M. Quraish. (2005). Tafsir Al-Misbah. (tangerang : Lentera Hati)
Soetomo. (2011). Strategi-strategi Pembangunan Masyarakat. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar